By: Retno Kusumawardhani
Sepanjang Dago di bawah uraian air mata bidadari
Aku meratapi takdir
Menjadi seekor kupu kupu bersayap rapuh
Masih tergambar jelas
Saat kutinggalkan desa kecil berbukit indah
Mengejar kebebasan yg kian membuncah
Meski harus kutebus dengan murka ayah & tangis ibu
Aku larut dalam bermacam warna dan pesta
Menghirup kuat kuat aroma kebebasan yg baru saja kupunya
Menebar madu pada manusia manusia yg tak berjiwa
Tak terbilang sudah
Tangan tangan torehkan goresan dosa
Aku terus tenggelam dalam pesta kelam
Hingga suatu saat
Aku menatap wajahku di depan kaca
Aku tersentak
Menatap semakin lekat
Tak kenali lagi bayangan perempuan yg terpantul disana
Seorang gadis kecil cantik bermata indah
Berlarian riang mengejar kupu-kupu di kaki bukit.
Siapakah dia?
Aku tolehkan wajah
Bayangan gadis kecil itu mengabur
Perlahan semakin jelas seorang perempuan pucat, kuyu, bermata cekung, Dibingkai rambut merah meranggas
Dibalut riasan tebal bak perempuan jalanan
Aku tertunduk luruh
Serasa patah sayapku
Sepanjang Dago, di bawah uraian air mata bidadari
Kembali kuratapi takdirku
Lewat bibir kering ini ingin kulantunkan doa jauh menembus langit
Tapi mungkinkah langit sudi menerima ampunku?
Sedangkan nafasku-pun telah busuk serupa anyir darah
Sepanjang Dago di bawah uraian air mata bidadari
Setiap derainya seakan ingin berlomba, membersihkan jejak jejak tubuh Perempuan pendosa
Tidak ada komentar:
Posting Komentar